Rabu, 02 November 2011

Battlefield 3 Review Yang Mengagumkan












Review ini saya Copas dari Situs Games yang sering saya kunjungi dan Review nya ini sangat lengkap dan Deteil karena yang mereview juga propesional ^^ Sebelumnya terimaksih untuk gamexeon dan Bro Arni Original Review bisa di lihat disini

(Single Player only) 











PROLOG
Akhirnya, DICE selaku pengambang dan Electronic Arts (EA) menerbitkan sebuah game 1st person action shooter pada Oktober ini, yakni Battlefield 3 (BF 3). Menurut Dice dan EA, BF 3 ini merupakan saingan berat dari Call of Duty Modern Warfare 3 (COD 8 MW 3) milik ACtivision, selain itu pada berbagai iklan-iklan sebelumnya mereka juga mengklaim jika BF 3 akan mampu mengalahkan MW 3 dalam segala hal. Mereka berkata, telah memperkuat gfx BF 3 dengan Frosbite Engine 2 (FBE 2), penerus FBE 1 dari Battlefield Bad Company 2 (BF BC 2), dan juga telah meningkatkan gameplay BF 3 dibandingkan dengan BF 2. Cerita utama di BF 3 pun juga berisi sebuah kisah yang solid dan berdurasi lama permainan hingga 10 jam. Kenyataannya sekarang ini, benarkah semuanya demikian?? Penulis akan membahas sisi single player-nya (SP) saja, berikut ini.












STORYLINE
Tak seperti seri BF 2 yang lalu, di BF 3 ini memiliki struktur cerita kampanye yang saling berurutan, sama seperti di seri COD MW 1-2, setting kisah juga berada di masa depan, tepatnya pada 2014. Alkisah, Staf Sersan Henry Blackburn (Black) dari Pasukan Marinir Amrik sedang di interogasi oleh dua petugas CIA di Kota New York. Keduanya memaksa si Black untuk menceritakan berbagai pengalamannya dan para rekan-rekannya seputar penugasannya di lapangan, yakni selama bertugas di perbatasan Irak Utara dan di negara Iran. Yup, cerita flashback yang sangat mirip dengan cerita utama di COD 7 Black Ops, dan selama bercerita itu, juga muncul beberapa tokoh-tokoh lainnya yang terkait dengan penugasan si Blackburn di kedua wilayah konflik perang itu. Yaitu, Sergeant Jonathan Miller (Johny) anggota Batalyon Tank Marinir Amrik, Lieutenant Jennifer Hawkins (Colby) co-pilot F-18 AL Amrik, dan Dimitri Mayakovsky (Dima) anggota tim GRU Spetznas Rusia.

Keempat tokoh utama diatas memberikan berbagai alur cerita dari sudut pandang masing-masing, tapi oleh kedua petugas CIA itu semuanya dianggap membahayakan kedaulatan negara AMrik. Selama penugasan si Black ke wilayah konflik, semula ia dan rekan-rekannya sesama satu regu bertempur dengan sebuah milisi bersenjata, PLR yang sering membuat kekacauan di wilayah Irak Utara. Belakangan baru diketahui jika milisi PLR itu ternyata berafiliasi erat dengan salah seorang tokoh muda pemimpin politik sayap kanan Iran, Al Bashir yang kini lagi berkuasa penuh di negara Iran. Maka pihak Amrik, dalam hal ini pasukan marinirnya, menginvasi Iran dengan nama sandi, Operasi Guillotine, untuk menghancurkan kekuaan militer PLR dan menangkap pimpinannya, Al Bashir, hidup-hidup.

Kemudian, pasukan Amrik dengan bantuan serangan dari udara, serangan dari laut dan kombinasi pasukan infanteri, pasukan tank serta artileri, berhasil memasuki jantung utama Iran, yakni Teheran. Ketika usai membersihkan sebuah kantor utama dari salah satu bank lokal di Teheran dari kekuasaan pasukan Iran dengan susah payah, Black dan rekan-rekannya menemukan fakta yang mengejutkan bahwa ternyata disitu tersimpan satu box yang bisa berisi tiga hulu ledak nuklir portabel, buatan Rusia. Akan tetapi, hanya satu hulu ledak saja yang tertinggal dalam box tersebut, sedangkan dua hulu ledak lainnya tak diketahui lagi ada dimana, selain ada beberapa petunjuk intelijen yang tertinggal di kantor bank itu. Dan disaat yang sama pula, mereka menemukan fakta lain bahwa pemilik box nuklir portabel itu ternyata seorang tokoh teroris terkenal, bernama Solomon (Sulaiman).

Maka, si Black dan rekan-rekannya yang tersisa menyita satu hulu ledak saja, lalu segera meninggalkan kantor bank dengan menumpang sebuah helikopter Marinir Amrik, setelah mendapat bantuan dari salah satu anggota pasukan tank Marinir, si Johny. Sebab, pasukan Iran kembali melancarkan serangan balik secara membabi buta ke kantor bank itu. Disaat yang sama, si Colby yang bertugas sebagai co-pilot F-18 melakukan misi pembersihan area udara dan wilayah bandara udara di sekitar Kota Teheran, dari berbagai aktivitas militer pasukan Iran. Di pihak lain, pihak Rusia yang menyadari ada pencurian tiga hulu ledak nuklir miliknya, lalu secara diam-diam mengutus salah satu tim Spetznas-nya yang terbaik dari yang terbaik, diantaranya adalah si Dima beserta rekan-rekannya. 












Mereka bertugas untuk menangkap Kaffarov, salah seorang pedagang gelap senjata internasional yang diketahui terlibat dalam kasus pencurian tersebut, untuk mencari tahu keberadaan ketiga nuklir portabel itu ada dimana. Maka, dimulailah kedua negara adikuasa yang saling berbeda kepentingan itu, sama-sama memburu keberadaan hulu ledak nuklir portabel dan para aktor intelektual yang terlibat dalam kasus senjata pemusnah massal itu, tentu dengan cara dan metode perburuan yang juga saling berbeda pula. Jika melihat secara keseluruhan, terkesan akan terlihat sebuah kisah drama perang yang sangat menegangkan dan intrik-intrik konspirasi politik yang rumit. Tapi, seandainya melihat secara runut, satu demi satu alur cerita yang ada di fps shooter ini, maka akan kelihatan jelas jika DICe hanya meramu dan mengkombinasikan segala hal konsprasi politik dan militer yang sudah pernah diulas habis-habisan sebelumnya oleh seri MW 1-2 dan COD Black Ops.

Oops, nama tokoh utama di BF 3 ini kok sangat mirip dengan judul COD 7 ya?? Ah itu hanya kebetulan saja. Pasukan Amrik bertemu kembali dengan pasukan Para Rusia dan tim Spetznas?? itu juga kebetulan kali. Pasukan amrik bertemu dengan teroris keturunan Arab dan menangkap pimpinan suatu negara di sekitar wilayah TImur tengah?? Itu juga kebetulan kok. Unsur cerita yang berasal dari penceritaan berbagai tokoh militer yang berbeda?? Kebetulan juga donk. Atau misi penyerbuan ke rumah Villa milik Kaffarov oleh Rusia dan Amrik?? Wow, itu hanya serba kebetulan saja. Iya iya, konsepnya cerita utama di BF 3 ini merupakan polesan dan rangkuman terbaik dari cerita-cerita yang sudah pernah dibahas sebelumnya oleh COD 4,6,7. Belum lagi, salah satu petugas interogator CIA yang botak itu, entah mengapa, postur tubuh dan wajahnya mengingatkan penulis dengan seorang tokoh lainnya yang juga sama-sama penegak hukum, entah dari game apa itu.  












GAMEPLAY
Alur cerita di BF 3 ini sangatlah linier dan konsep peta level sama seperti BF BC 2 yang close ended gameplay. Gamer akan memerankan empat tokoh utama di BF 3 ini, yakni Sersan Black, Sersan Johny, Letnan Colby, dan Dima. Black dan Dima ialah anggota pasukan infatneri dan tim pasukan khusus, jadi gamer akan bertempur dengan para musuh yang bersenjata lengkap sepanjang game, seperti standar game 1st person shooter lainnya. Sedangkan jika berperan sebagai Johny, maka gamer akan sempat bisa mengendarai tank M-1 Abrams dan menembak tank-tank musuh dan para pasukan infanterinya, dan saat berperan sebagai Colby maka gamer akan bisa merasakan sebagai co-pilot F-18, co-pilot, bukan sebagia pilot utama. Tugas co-pilot di game ini yakni sebagai penembak rudal dan bom, hanya itu saja. Selama cerita kampanye ini berlangsung, gamer takkan bisa mengendarai pesawat jet tempur ataupun heli apapun jenisnya. Gamer hanya bisa berjalan kaki dan atau mengendari tank, ya sudah begitu saja.

Perubahan radikal dari cerita kampanye di BF 2 ke BF 3 ini terasa kurang nyaman, sebab di BF 2 yang dulu, gamer bebas mau berperan sebagai prajurit tanpa nama untuk mengendarai berbagai macam kendaran yang ada di semua peta level di BF 2. Mulai dari jeep, panzer, tank, pesawat jet, heli angkut, heli tempur, kapal patroli kecil, dsb dst dll. Misi obyektif di BF 2 pun lumayan sederhan, tangkap titik-titik tertentu dengan segala cara untuk meraih point tertinggi. Tapi di BF 3, selain ada pembatasan penggunaan kendaraan, selama bertempur gamer juga musti harus selalu mengikuti setiap obyektif misi yang ada di setiap peta level tanpa kecuali. Bunuh semua musuh yang ada terlebih dahulu di peta level C untuk melanjutkan perjalanan ke peta level D, dst-nya. Namun, di setiap area peta level yang terdiri dari 12 bab cerita d BF 3 ini, tak ada sedikit kebebasan taktik bertempur bagi gemer dalam menghadapi para musuh yang bermunculan dan menyerang secara terus menerus.

Seperti yang sudah pernah gamer nikmati selama memainkan semua seri COD dan BF BC 2. Melenceng sedikit aja dari pakem skenario yang sudah ditentukan, akan menghasilkan kematian yang sangat cepat bagi gamer ataupun ada peringatan 'dilarang meninggalkan wilayah pertempuran'. Keren banget bukan?? Sebagai contoh, ketika berlangsung operasi penyerbuan marinir Amrik ke Teheran, jagan sekali-kali gamer mau ber-improvisasi taktik, dengan mencoba-coba untuk menyerang musuh dari sebelah kiri/kanan, melainkan gamer harus selalu mengikuti salah seoarng rekan-nya untuk bisa terus maju membunuhi para musuh. Jika sudah selesai membunuh musuh, jangan sekali-kali pula untuk selalu berada di langkah terdepan, namun lagi-lagi harus mengikuti salah seorang rekan gamer yang menjadi panduannya. Campo, Montess, Matkovic, adalah nama-nama rekan gamer yang hampir selalu menemani si Black selama bertempur melawan pasukan Iran dan PLR serta Rusia.

Atau di satu peta level di Paris, si Dima dan seorang rekannya harus terus mengejar hidup-hidup salah seorang target teroris, meskipun di serang kanan kiri oleh pasukan polisi Prancis, gamer harus bisa menghindari itu semua dan terus mengejar, jagan berhenti walaupun sekian detik saja. Jika melanggar pakem dengan mencoba berimprovisasi, maka gamer akan cepat tewas terbunuh ataupun misi dianggap gagal dan harus mengulangi auto cek poin terakhir, sebagai satu-satunya sistem savegame di BF 3 ini. AI tim ya kadang-kadang lumayan pintar tingkat kecerdasannya, umumnya sih standar aja, kadang akurat bisa tepat membunuh musuh dan bereaksi cepat dalam membalas serangan musuh, kadang-kadang juga bisa lambat bereaksi dalam melayani serangan para musuh. Untuk AI tim pasukan Amrik, tingkat kecerdasannya terbilang standar, tapi untuk AI tim dari Spetznas ya lumayan pintar.













Sedangkan AI musuh ya umumnya termasuk standar, taktik penyerangan mereka lebih berhati-hati, dalam arti kata mereka lebih suka bersembunyi dibalik dinding atau penghalang, sambil menembaki gamer dan rekan-rekan lainnya, atau kadang-kadang melemparkan granat. Sebagian besar pertempuran akan gamer lalui tidak dengan sendirian, melainkan bersama-sama dengan para AI Tim, hanya di satu peta level saja yang mengharuskan gamer untuk bertempur sendirian melawan para musuh yang berdatangan. Meskipun sangat linear skenario cerita, tapi umumnya pertempuran tetap berlangsung sangat seru dan mengasyikkan. Sistem health masih berupa regenerasi darah ala COD 7 ataupun BF BC 2, sistem perlindungtun juga perlu tapi gak sekaku game ala Geras of wars. Beberapa tempat untuk berlindung bisa hancur ditembaki terus menerus, tapi sebagian lainnya tetap utuh meskipun ditembaki.

Kontrol gerakan karaktare dan kendaraan terasa nyaman dan mulus, dengan penggunaan kombinasi tikus+kibord seperti biasanya, sama seperti di BF BC 2. Menembaki para musuh yang berseliweran terasa empuk dan mantap, recoil senjata-senjata yang ada di BF 3 umumnya kecil-kecil dan enak untuk menembaki musuh, baik dalam jarak dekat, menengah, dan jauh. Berbagai jenis senjata-senjata modern masa kini akan gamer nikmati selama bertempur di cerita kampanye BF 3
Pertempuran-pertempuran yang ada sebenarnya sangat seru, tapi agak terasa berkurang dengan ke-linear-an skenario cerita yang ada di semua level peta. Semakin berkurang lagi unsur aksi tembak menembaknya, begitu si Dice entah dapat ide darimana, untuk memasukkan banyak fitur quick time event (QTE) di sepanjang cerita kampanye BF 3, dimulai dari awal hingga akhir cerita. Unsur QTE di BF 3 ini akan muncul jauh lebih banyak daripada yang muncul di COD 6, membuat game ini jadi lebih terasa sebagai action adventure dengan mode 1st person shooter. Memang, fitur QTE nya di BF 3 termasuk agak sederhana, dan mungkin maksud si Dice untuk menambah kesegaran dalam adegan tembak menembak yang sangat intens. Tapi, penggunaan QTE yang penulis bisa sebut, agak berlebihan ini malah terasa membuat mode SP di BF 2 ini jadi kelihatan kurang luwes, kurang fleksibel dalam bertempur, mungkin malah menjadi terasa kurang unsur aksi 1st person shooter-nya.

Mungkinkah si Dice dapat ide yang sama dengan pengembang game Need For Speed The Run, yang sama-sama menggunakan gfx FBE 2 di dalam gamenya, untuk menyampurkan unsur QTE... ?? Daripada mencampurkan unsur QTE ke dalam cerita kampanye, mungkin sebaiknya si DICe bisa membuat skenario cerita yang gak terlalu linear, dengan memberikan sedikit kebebasan bagi gamer untuk melakukan taktik penyerangan terhadap musuh. DIkarenakan, biasanya game yang fokus ke mode multiplayer online (MP OL) ini, mode SP-nya hanya sebatas latihan bagi gamer sebelum terjun ke mode MP OL, sebagaiman yang telah dilakukan oleh game Quake 3, Counter Strike Source, BF 2, Unreal Tournament 3, Red Orchestra 2, dst.












Dimana, dalam semua game tersebut, terutama di BF 2, mode SP difokuskan untuk membiasakan gamer dengan setting kontrol default yang ada, dan melawan para AI bot baik itu musuh ataupun kawan secara ramai-ramai. Meskipun tema cerita gak begitu jelas, selain ada dua pihak yang saling berbeda dan saling bernafsu untuk saling menghabisi satu sama lainnya. Gameplay semacam itu akan jauh lebih baik, seandainya Dice mau memasukkan hal yang sama dari mode SP BF 2 ke dalam BF 3 ini, bukan dengan cara gameplay seperti yang ada di BF 3 yang sekarang ini. Sudah gameplay-nya yang close ended, juga diiringi dengan skenario cerita yang sangat linear, semisalnya di peta level terakhir di Kota New York, melebihi mode SP di hampir semua seri COD dan BF BC 2. 












SOUND
Sekali lagi, Dice memberikan kualitas audio nomor satu bagi gamer melalui BF 3 ini, semua jenis suara yang ada, terutama gerak langkah kaki baik ketika berjongkok, merayap, ataupun berlari, detail suaranya sangat jernih dan sangat jelas terdengar di telinga, ucapan dan obrolan para AI tim/musuh semuanya sesuai menggunakan bahasa nasioanl masing-masing, jika itu AI tim dari Amrik maka ya jelas saja berbahasa INggris ala Amrik. Sedangkan jika AI tim itu orang Rusia, bahasanya juga bahasa Rusia, begitu pula para musuh, baik itu Pasukan Iran ataupun PLR juga menggunakan bahasa... err, bahasa IRan kayaknya, Semua ucapannya terdengar jelas. Dice sangat memperhatikan detail semua suara yang ada, semisal ketika penulis dan kedua AI tim dari Rusia lagi berada di salah satu gedung Bursa Efek di Paris, Prancis. Selain, penulis terpukau dengan suara gerak langkah yang menggema ke di dalam ruangan, dan suara-suara tembakan senjata yang terdengar memekakkan telinga, baik itu ketika semburan peluru mengenai jendela kaca ataupun dinding, semuanya sangat jernih suaranya, bagaikan seperti suara aslinya.

Suara para teroris yang sebagian panik dan sebagian bersemangat untuk menghadang laju pergerakan penulis dan rekan-rekan, sangat terasa nyata di telinga, belum lagi suara-suara ledakan bercampur baur dengan suara-suara peluru yang berseliweran. Tidak hanya itu, sehabis berhasil keluar dari gedung Bursa Efek itu, ketika lagi bertempur di jalanan melawan para polisi Prancis, ada beberapa kendaran mobil milik warga sipil yang tergeletak begitu saja di tengah jalan. Sebagian pintu mobil itu terbuka, dan ada suara radio mobil yang masih menyala disaat penulis melewatinya. SEtiap senjata ada pemilihan fire of rate-nya, jadi bisa dibuat single/burst/auto, dan perbedaan suara diantaranya sangat jelas terdengar. Benar-benar luar biasa, dan itu hanya sebagian kecil dari kualitas audio yang terbaik yang dibuat leh Dice. Berbagai musik latar juga lumayan bagus terdengar.
 











GFX
Dice telah mempersenjatai gfx engine BF 3 dengan menggunakan FBE 2, dan menjanjikan jika gamer akan merasakan pengalaman kehancuran berbagai obyek dan bangunan yang lebih detail daripada yang ada di BF BC 2. Physic engien di game ini sama sperti havok physic engine milik intel, yang bertumpu pada kekuatan cpu dalam menampilkan berbagai efek kehancuran lingkungan yang lebih realistis. Well, di mode SP BF 3 ini, penulis tak melihat efek-efek kehancuran lingkungan yang melebihi kedetailan kerusakan seperti yang muncul di BF BC 2, semisal robohnya sebuah bangunan. Eh ada sih 1-2 bangunan yang runtuh, tapi keduanya sesuai dengan alur skenario cerita, bukan seperti di BF BC 2, yang gamer bebas mau merobohkan bangunan yang mana dulu untuk menghabisi para musuh yang terus berdatangan. Beberapa obyek memang bisa dihancurkan, semisal dinding tipis, kayu, meja, kursi, tapi sebagian lainnya sama sekali tak bisa hancur, termasuk banyaknya beberapa bangunan di BF 3.

Meskipun penulis sudah memaximalkan semua opsi gfx di menu utama, tetapi efek-efek physic engine yang mau diperlihatkan oleh Dice, nyatanya hanya bagus pas gembar gembor iklan-nya saja, tapi tidak begitu terlihat hal yang sebenarnya di cerita kampanye BF 3 versi final retail. Tingkat kesadisan dan kebrutalan perang juga tak terlihat sama sekali di game ini, jika gamer menembak atau menusuk musuh, hanya ada secuil darah. Takkan ada terlihat kerusakan tubuh musuh ataupun ceceran darah di lantai ataupun tanah, semua bersih. Penulis merasa sedikit kecewa dengan sedikitnya efek-efek kehancuran lingkungan di BF 3, yang tak sebanyak seperti di BF BC 2. Namun, disisi lainnya, Dice mampu menutupi berbagia kekurangan dalam menampilkan efek-efek kehancuran lingkungan, dengan meningkatkan detail texture pada hampir semua obyek dan bangunan di BF 3, sedikit melebihi yang ada di BF BC 2. Si Dice tampaknya memang memberikan kualitas gfx yang terbaiknya di BF versi PC ini.

Dengan dukungan penuh tehadap Dx11+ sedikit unsur tesselation, membuat banyak hal di game ini semakin detail dan tajam texturenya. Baik itu seragam tempur para marinir AMrik maupun detail senjata yang dipakai oleh gamer. Banyak desain peta level di game ini yang benar-benar bagus dalam menggambarkan kondisi wilayah yang terus dilanda pertempuran, dinatarnya reruntuhan-reruntuhan kota Teheran, interior Bursa Efek Paris, villa Kaffarov, dan wilayah kota New York, si Dice menggarap semuanya dengan sangat apik. Salah satu desain peta level yang bagus ialah, ketika gamer berperan sebagai si Black, dalam operasi menangkap AL-Bashir yang lagi bersembunyi di salah satu apartemen kecil, di satu sudut kota besar di Iran, yang dilakukan pada malam hari ketika hujan turun rintik-rintik. Gamer akan ditempatkan pada salah satu atas gedung bersama seorang AI tim, untuk membantu memperlancar penyusupan yang dilakukan oleh AI tim lainnya yang berada di bawah, di pinggiran jalanan, secara diam-diam.

Pemandangan kota tersebut di malam hari, yang terlihat dari atas gedung, akan terlihat sangat indah dari berbagai sisi, dipadukan dengan hujan turun rintik-rintik, dan di beberapa tempat diatas gedung itu, akan muncul lantai-lantai basah kena air, dan memunculkan pantulan cahaya lampu, benar-benar mantap desain peta levelnya. Game ini sudah tak mendukung win XP dan DX9c, dan hanya mendukung Dx10 dan Dx11. Tapi saat gamer menyalakan semua semua efek gfx, akan terasa lancar, dengan catatan gamer tidak mengaktifkan fitur MSAA (AA Deffered), melainkan cukup dengan AA Post (FXAA). Opsi MSAA (2x,4x) di resolusi 1080p lebih cocok bagi gamer yang telah memiliki vga sekelas gxt 570 1,3gb/hd 6950 2gb. Dice sendiri termasuk sangat perhatian dalam memberikan banyak opsi gfx, bahkan hingga ada pengaturan point of view untuk gamer. Berbagai cutscene movie yang menggambarkan adegan interogasi, menggunakan film prerender yang lumayan bagus sekaligus lucu. Sebab, seorang interogator berambut putih kadang suka berwajah kocak. 












REPLAYBILITY
Sampai saat ini, BF 3 belum mendukung mods pihak ketiga, sebagaimana yang terjadi pada BF 2 yang lalu. Di mode SP saja, takada unsur mengkoleksi berbagai item rahasia apapun selama cerita kampanye berlangsung, jadi jika tamat ya sudah selesai. Adanya fitur QTE mungkin akan sedikit membuat game ini jadi terasa kurang mantap di mode SP-nya. Durasi permainan di mode SP BF 3, tak lebih lama daripada ketika gamer menamatkan COD 6 ataupun COD 7.
Alur cerita dan gameplay, terasa kurang garam, namun takaran rasa di sisi suara dan gfx pada BF 3 benar-benar super, terutama kualitas audionya. Btw, tampang si Black itu mirip dengan seorang aktor terkenal, Willem Dafoe ya??
 











EPILOGUE
Mungkin memang ada benarnya jika ada yang mengatakan bahwa mode SP di BF 3 dengan mode MP OL BF 3 memang dua hal yang sangat berbeda sekali, tak bisa disatukan. Beda seperti di seri MW 1-2 yang mode MP OL-nya terasa menyatu dengan mode SP-nya, yang lebih dikarenakan sama-sama satu jenis pertempuran bertempo sangat cepat. Di Bf 3 ini, penulis sendiri selama memainkan merasa ada yang berbeda dengan game-game 1st person shooter lainnya, di BF 3 ini malah jadi terasa action adventure, bukan murni 1st person shooter lagi.


============================================
Penilaian
============================================

Storyline----> 7
Polesan dan Rangkuman terbaik dari semua seri COD 4, 6, 7.

Gameplay-----> 7
Sangat seru menyerbu ke Kota Teheran di malam hari

Sound--------> 10
Suara Pertempuran di dalam Bursa Efek Paris, sangat Detail

Gfx-----> 9
Pantulan di genangan air di malam hari terlihat sangat jernih dan mengkilap

Replayability----> 7
Mengulangi misi penyerbuan tank lumayan menarik

Total Skor = 8


(+) :
- Detail gfx sangat tajam
- Desain peta-peta level yang sangat menakjubkan
- Begitu banyak pilihan senjata dan gajet-nya
- Gerakan para karakter yang ada, sangat mulus

(-) :
- Takada unlock secret item sama sekali
- Unsur QTE yang banyak jadi terasa salah kamar
- Alur cerita sangat linear
- Tak mendukung mods pihak ketiga
- Unsur kerusakan bangunan, sangat sedikit

0 comments:

Posting Komentar

Kalau berkunjung jangan lupa masukan komentar kritik dan saran
masukan komentar anda di bawah ini

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger